Fivever Friends

Fivever Friends
HIJOU In Bali

Minggu, 14 November 2010

Penipu Cinta

Sabtu, 25 September 2010
Untukmu, yang telah menyayat hati ini!


Pernah memilikimu, layaknya seperti sebuah mimpi yang hadir saat aku tak pernah memejamkan mata.. Karena saat itu aku takut, saat membuka mataku kembali kau telah pergi. Aku selalu berusaha terjaga, tak ingin bangun dari mimpi dan angan yang mungkin indah bagiku. Betapa tidak, kau adalah jawaban doaku pada Tuhan. Sungguh yang aku inginkan adalah lelaki sepertimu. Hingga aku menggantungkan angan setinggi langit, sedalam lautan, seluas samudera… Mungkin memang cara mendapatkan cintaku terlalu mudah, aku tak pernah berpikir untuk mencari tahu terlebih dahulu siapa sebenarnya dirimu? Apakah benar ada cinta untukku? Kata-katamu memang semanis madu, bahkan setajam pisau yang kini menyayat pedih hatiku. Dan aku dengan mudahnya tertipu, terjatuh di pelukan cinta palsumu. Betapa tidak, aku hanya sebagai pelarian saja bukan!!!!
Perlahan kau angkat aku hingga ke ujung langit. Baru kurasakan sebentar hangat cintamu, tiba-tiba kau hempaskan begitu saja semua harapku tentangmu. Aku berpikir kau adalah cerita cintaku yang terakhir, yang akan menyudahi semua kegelisahan, kegundahan, bahkan kesepianku. Aku berpikir semuanya kini akan berakhir bahagia.

Baru saja kutulis namamu di diary harianku
Belum habis semua rasa bahagia kutuang
Haruskah kini kutuliskan tentang lara,
tentang kenyataan yang kutahu akhirnya ?
Kau pergi saat ku masih ternganga
Terbuai segala pesona rasa jatuh cinta
Haruskah kurobek semua seolah tak pernah ada ?


Kini, haruskah aku menganggapmu hanyalah selaksa sampah di tepian laut mati. Kotor, bahkan sangat hina! Hanya untuk mengobati kekecewaanku atas kekagumanku padamu di hari sebelumnya, sebelum hari penghianatanmu ini! Karena hari ini dan selamanya, kukatakan bahwa aku MENYESAL telah mengenalmu dan memberikan tulus cintaku padamu.
Sungguh, telah habis semua rasa yang berkecamuk dalam dada. Rasanya kini yang tertinggal hanya kepahitan seumpama perilakumu yang seperti rasa empedu! Maka, benar jika aku katakan, tak dapat lagi kau peroleh ampunku dengan apa pun juga? Pikirmu apa yang masih kamu miliki? Cinta berbuah madu maupun cinta berlapis emaskah? Meski kau jual dirimu sekalipun tak dapat lagi kau beli maafku! Harga maafku adalah harga sebuah nyawa. Penghianatanmu telah membunuh seluruh ragaku. Maka ragamu pun harus mati oleh sebuah KARMA. Beribu hari lamanya cemeti penghianatanmu mencabik-cabik cinta tulusku. Ternyata bilur-bilur penyesalannya hanya menyiksa diriku seorang ...

Harusnya aku mencampakkanmu
Di kala langit tak bermentari
Di kala awan t’lah menghitam
Harusnya aku membunuh sandiwara cintamu
Saat kedua kakimu melemah
Ketika datang semua gundah
Harusnya aku belum terlambat
Jika aku dapat menahanmu beranjak
Pergi menghilang dariku dan kembali memasang jerat





            JUWIETHA

1 komentar:

  1. Sebuah barisan kata yang mewakili kecewaku pada seseorang yang telah mendua, menipu, munafik di hadapanku! Sungguh mataku telah dibutakan pesona kediamannya saat itu. Tapi kini aku sadar, semua itu hanya kepalsuan untuk menarik hatiku agar terpesona padanya saat "Pandangan Pertama"

    BalasHapus